BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam proses pendidikan, peserta didik merupakan salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral. Peserta didik menjadi pokok persoalan dan tumpuan perhatian dalam semua proses transformasi yang disebut pendidikan. Dalam hal ini, peserta didik dipandang sebagai mahluk yang membutuhkan binaan, bimbingan dan dorongan agar menjadi manusia yang berintelektual maupun cakap moralnya. Kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor yang kemungkinan akan berkembang ke proses penyesuaian yang baik atau tidak baik.
Permasalahan penyesuaian diri merupakan momok menakutkan bagi orang tua, lebih khususnya remaja atau peserta didik itu sendiri. Diantara persoalan terpentingnya yang dihadapi remaja dalam kehidupan sehari-hari dan yang menghambat penyesuaian diri yang sehat adalah hubungan remaja dengan orang dewasa terutama orangtua. Perlu kita ketahui juga, tingkat penyesuaian diri dan pertumbuhan remaja sangat tergantung pada sikap orangtua dan suasana psikologi dan sosial.
Sikap orangtua yang memberikan perlindungan yang berlebihan juga berakibat tidak baik. Remaja yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang secara berlebihan akan menyebabkan ia tidak dapat hidup mandiri. Ia selalu mengharapkan bantuan dan perhatian orang lain dan ia berusaha menarik perhatian mereka, serta beranggapan bahwa perhatian seperti itu adalah haknya. Sikap orangtua yang otoriter, yang memaksakan otoritasnya kepada remaja, juga akan menghambat proses penyesuaian diri mereka. Remaja akan berani melawan atau menentang orangtuanya. Pada gilirannya, ia cenderung akan bersikap otoriter terhadap teman-temannya dan bahkan menentang otoritas orang dewasa, baik disekolah maupun dimasyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa pengertian penyesuaian diri ?
b) Bagaimana karakteristik penyesuaian diri ?
c) Bagaimana proses penyesuaian diri ?
d) Apa saja aspek-aspek penyesuaian diri ?
e) Apa implikasi penyesuaian diri peserta didik?
1.3 Tujuan
a) Untuk mengetahui pentingnya penyesuaian diri peserta didik usia sekolah menengah.
b) Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah.
1.4 Manfaat
a) Sebagai pedoman bagi pembaca tentang penyesuaian diri.
b) Menjadi bahan bacaan bagi para pembaca yang membutuhkan tentang konsep penyesuaian diri pesertta didik usia sekolah menenga.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian penyesuian diri
Pengertian penyesuaian diri (adaptasi ) pada awalnya berasal dari pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi, yaitu dikemukakan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusi. Ia , mengatakan ‘’genetic changes can iprove the ability of organisms to survive, reproduce, and in animals, raise offspring, this process is called adaptation’’.Artinya tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat ia hidup, seperti cuaca dan berbagai unsur alamiah lainnya. Semua mahluk hidup secara alami telah dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara beradaptasi dengan keadaan lingkungan alam untuk bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian diri (adaptasi dalam biologi) disebut dengan istilah adjusment. Adjusment merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri dan tuntutan lingkungan (Dafidoff, 1991) manusia dituntut menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri.
Dengan demikian, penyesuaian diri merupakan suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang sesuai dengan kondisi lingkungaya. Penyesuaian diri juga dapat diartikan sebagai berikut.
a) Penyesuaian diri yang berarti adaptasi dapat mempertahankan eksistensi, atau bisa’’ survive’’ dan memperoleh kesejahteraan jasmani dan rohani, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan lingkungan sosial.
b) Penyesuaian diri dapat juga diartikan sebagai konformitas yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip yang berlaku umum .
c) Penyesuaian diri dapat diatikan sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan juga mengordinasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengadaptasi berbagai konflik, kesulitan dan frustasi-frustasi secara efektif. Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang adekuat atau memenuhi syarat.
d) Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional brarti memiliki respons emosional yang sehat dan tepat pada setiap persoalan dan situasi.
Berdasarkan pegertian diatas maka dapat kami simpulkan penyesuaian diri ialah penguasaan emosional yang bertujuan untuk terjadi hubungan yang sesuai dengan lingkungan dan mendapat kesejahteraan jasmani dan rohani.
2.2 karkteristik penyesuaian diri
Karakteristik penyesuaian diri tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena ada banyak rintangan dalam proses penyesuaian diri. Berikut ini akan ditinjau karakteristik penyesuaian diri yang positif dan penyesuaian diri yang salah :
1. Penyesuaian diri yang positif
a) Tidak menunjukan adanya ketegangan emosional yang berlebihan.
b) Tidak menunjukan adanya mekanisme yang salah.
c) Tidak menunjukan frustasi pribadi.
d) Memiliki pertimbangan yang rasional dalam pengarahan diri.
e) Mampu belajar dari pengalaman.
f) Bersikap realistik dan objektif.
Dalam penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukan berbagai bentuk berikut ini.
a. Penyesuaian diri dalam menghadapi masalah secara langsung.
Misalnya, seorang remaja yang hamil sebelum menikah akan menghadapi secara langsung dan berusaha mengemukakan segala alasan kepada orang tuanya.
b. Penyesuaian diri dengan melakukan eksplorasi (penjajahan)
Misalnya, seorang siswa yang merasa kurang mampu dalam mengerjakan tugas makalah akan mencari bahan dalam upaya menyelesaikan tugas tersebut, dengan membaca buku, konsultasi, diskusi, dan sebagainya.
c. Penyesuaian diri dengan trial and error
Misalnya, seorang pengusaha mengadakan spekulasi untuk meningkatkan usahanya.
d. Penyesuaian dengan subtitusi (mencari pengganti)
Misalnya, gagal berpacaran secara pisik, ia akan berfantasi tentang gadis idambanya.
e. Penyesuaian diri dengan belajar
Misalnya, seorang guru akan belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan profesionalismenya.
f. Penyesuaian diri dengan pengendalian diri
Dalam situasi ini, individu akan berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan dan tindakan mana yang tidak perlu dilakukan. Cara inilah yang disebut inhibsi.Misalnya, seorang siswa akan berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan pada ujian.
g. Penyesuaian diri dengan perencanaan yang cermat
Dalam hal ini, sikap dan tindakan yang dilakukan merupakan keputusan yang diambil berdasarkan perencanaan yang cermat atau matang. Keputusan diambil setelah dipertimbangkan dari berbagai segi, seperti untung danruginya.misalnya : seseorang yang memilih antara pekerjaan dan pendidikan ia akan berusaha memilih mana yang harus dipilih.
2. Penyesuaian diri yang salah
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian diri yang salah. Penyesuaian diri yang salah ditandai oleh sikap dan tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, membabi buta, dan sebagainya. Ada tiga bentuk reaksi penyesuaian diri yang salah, yaitu reaksi bertahan, reaksi menyerang, dan reaksi melarikan diri.
a. Reaksi bertahan (defence reaktion)
Individu berusaha untuk mempertahankan dirinya dengan seolah-olah ia tidak sedang mengalami kegagalan. Ia akan berusaha menunjukan bahwa dirinya tidak mengalami kesulitan. Yaitu sebagai berikut.
· Rasionalisasi, yaitu mencari-cari alasan yang amsuk akal untuk membenarkan tindakanya yang salah.
· Represi, menekan perasaanya yang dirasakan kurang enak ke alam tidak sadar. Ia akan berusaha melupakan perasaan atau pengalamanya yang kurang menyenangkan atau menyakitkan.
· Proyeksi, yaitu menyalahkan kegagalan dirinya pada pihak lain atau pihak ketiga untuk mencari alasan yang dapat diterima. Misalnya, seorang siswa yang tidak lulus menyebutkan bahwa hal itu disebabkan guru-gurunya membenci dirinya.
·‘‘Sour grapes’’ (anggur kecut), yaitu dengan memutar balikan fakta atau kenyataan. Misalnya, seorang remaja yang gagal menulis SMS mengatakan bahwa handphone-nya rusak, padahal dia sendiri tidak bisa menggunakan HP.
b. Reaksi menyerang (aggressive reaction)
Individu yang salah suai akan menunjukan sikap dan perilaku yang bersifat menyerang atau konfrontasi untuk menutupi kekurangan atau kegagalanya. Ia tidak mau menyadari kegagalanya atau tidak mau menerima kenyataan. Reaksi-reaksinya antara lain :
·Selalu membenarkan dirir sendiri,
· Selalu ingin berkuasa dalam setiap situasi,
·Merasa senang bila mengganggu orang lain,
·Suka menggertak, baik dengan ucapan maupun perbuatan,
·Menunjukan sikap permusuhan secara terbuka,
· Bersikap menyerang dan merusak,
· Keras kepala dalam sikap dan perbuatanya,
· Suka bersikap balas dendam,
· Memerkosa hak orang lain,
·Tindakanya suka serampangan, dan sebagainya.
c. Reaksi melarikan diri (escape reaction)
Dalam reaksi ini, individu akan melarikan diri dari situasi yang menimbulkan konflik atau kegagalanya. Reaksinya tampak sebagai berikut :
· Suka berfantasi untuk memuaskan keinginan yang tidak tercapai dengan bentuk angan-angan (seolah-olah sudah tercapai ),
· Banyak tidur, suka minuman keras, bunuh diri, atau menjadi pecandu narkoba,
· Regresi, yaitu kembali kepada tingkahlaku kekanak-kanakan. Misalnya, orang dewasa yang bersikap dan berperilaku seperti anak kecil.
2.3 proses penyesuaian diri
Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui bahwa penyesuaian diri yang sempurna tidak akan pernah tercapai. Penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses psikologis sepanjang hayat (life long process) dan manusia terus-menerus akan berupaya menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat.
Respons penyesuaian diri, baik atau buruk, dapat dipandang sebagai suatu upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan memelihara kondisi-kondisi keseimbangan yang wajar. Penyesuaian diri adalah sebagai suatu mekanisme atau proses ke arah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dengan tuntutan eksternal. Dalam prosesnya dapat muncul konflik, tekanan atau frustasi, dan individu didorong untuk meneliti berbagai kemungkinan perilaku yang tepat untuk membebaskan diri dari ketegangan atau konfliks tersebut.
Orang akan dikatakan sukses dalam melakukan penyesuaian diri jika ia dapat memenuhi kebutuhanya dengan cara-cara yang wajar atau dapat diterima oleh lingkungan tanpa merugikan atau mengganggu orang lain. Penyesuaian diri yang baik, yang selalu ingin diraih setiap orang, tidak akan tercapai, kecuali bila kehidupan orang tersebut benar-benar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan ketegangan jiwa yang akut, dan orang tersebut mampu menghadapi kesukaran dengan cara yang objektif serta berpengaruh bagi kehidupanya, serta ia dapat menikmati kehidupanya dengan stabil, tenang, merasa senang dan berprestai.
Pada dasarnya, penyesuaian diri melibatkan individu dengan lingkunganya. Beberapa faktor lingkungan yang dianggap dapat menciptakan penyesuaian diri yang cukup sehat bagi remaja adalah sebagai berikut.
1. Lingkungan Keluarga Yang Harmonis
Apabila dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis yang didalamnya terdapat cinta kasih, respek, toleransi, rasa aman, dan kehangatan, seorang anak akan dapat melakukan penyesuaian diri secara sehat dan baik. Rasa dekat dengan keluarga merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi perkembangan jiwa seorang anak. Dalam kenyataanya, banyak orang tua yang mengetahui tentang hal ini, tetapi mereka mengabaikan dengan alasan mencari penghasilan yang besar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan menjamin masa depan anak-anak. Sikap ini sering ditanggapi negatif oleh remaja dengan merasa bahwa dirinya kurang diperhatikan, tidak disayangi, diremehkan, atau dibenci. Jika hal tersebut terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu yang cukup lama (terutama pada masa kanak-kanak), kemampuanya dalam menyesuaikan diri pun akan terhambat. Berdasarkan kenyataan tersebut, pemenuhan kebutuhan anak akan rasa aman, disayangi, haruslah diperhatikan. Orang tua harus berusaha untuk meningkatkan kualitas pengasuhan, pengawasan, dan penjagaan pada ankanya. Jangan sampai semua urusan makan dan pakaian diserahkan pada orang lain atau pembantu karena hal itu dapat membuat anak tidak bahagia.
Lingkungan keluarga juga merupakan lahan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, yang dipelajari melalui permainan, senda gurau, pengalaman sehari-hari dalam keluarga. Dorongan semangat dan persaingan antaranggota keluarga yang dilakukan secara sehat memiliki pengaruh yang penting dalam perkembangan kejiwaan anak. Orang tua sebaiknya tidak membiasakan anak pada hal-hal yang tidak dimengerti atau sesuatu yang sulit dilakukan olehnya, karena hal itu akan memupuk rasa putus asa pada jiwa anak.
Di lingkungan keluarga, seorang anak juga belajar untuk tidak menjadi egois. Ia diharapkan dapat berbagi rasa dengan anggota keluarga yang lain dan belajar untuk menghargai hak orang lain.
Di dalam lingkungan keluarga, seorang anak mempelajari dasar-dasar dari cara-cara bergaul dengan orang lain. Biasanya yang menjadi acuan atau contoh adalah figur orang tua, tokoh pemimpin, atau seseorang yang menjadi idolanya. Oleh karena itu, orang tua atau orang dewasa dituntut untuk meneladani atau menunjukan sikap-sikap atau tindakan-tindakan yang baik.
Dalam hasil interaksi dalam keluarganya, seorang anak juga mempelajari sejumlah adat dan kebiasaan, seperti dalam hal makan, minum, berpakaian, cara belajar, berbicara, duduk dan sebagainya. Selain itu, dalam keluarga masih banyak hal lain yang berperan dalam proses pembentukan kemampuan penyesuaian diri yang sehat, seperti rasa percaya pada orang lain atau diri seendiri, pengendalian rasa ketakutan, sikap toleransi, kerjasama, kehangatan dan rasa aman yang semua hal itu sangan berguna bagi penyesuaian diri dimasa depannya.
2. Lingkungan Teman Sebaya
Menjalin hubungan yang erat dan harmonis dengan teman sebaya sangatlah penting pada masa remaja. Suatu hal yang sulit bagi remaja adalah menjauh dari dan dijauhi oleh temannya. Remaja mencurahkan kepada teman-temannya apa yang tersimpan didalam hatinya, dari angan-angan, pemikiran, dan perasaan-perasaanya. Ia mengungkapkan kepada teman sebyanya yang akrab secara bebas dan terbuka tentang rencana, cita-cita, dan kesulitan-kesulitan hidupnya.
Pengertian dan saran-saran dari temannya akan membantu dirinya dalam menerima keadaan dirinya serta memahami hal-hal yang menjadikan dirinya berbeda dari orang lain dan keluarga orang lain. Semakin mengerti ia akan dirinya, semakin meningkat akan keadaannya untuk menerima dirinya, mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Ia akan menemukan cara penyesuaian diri yang tepat sesuai potensi yang dimilikinya itu.
3. Lingkungan Sekolah
Sekolah mempunyai tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah pengetahuan dan informasi saja, tetapi juga mencakup tanggung jawab moral dan sosial secara luas dan kompleks. Demikian pula guru, tugasnya tidak hanya mengajar saja, tetapi juga berperan sebagai pendidik, pembimbing, dan pelatih bagi murid-muridnya. Pendidikan modern menuntut guru untuk mengamati perkembangan penyesuaian diri murid-muridnya serta mampu menyusun sistem pendidikan yang sesuai denganperkembangan tersebut. Dengan demikian, proses pendidikan merupakan penciptaan penyesuaian antara individu dengan nilai-nilai yang diharuskan oleh lingkungan menurut kepentingan perkembangan individu. Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada cara kerja dan metode yang digunkan oleh guru dalam proses penyesuaian tersebut.
2.4 Aspek-Aspek Penyesuaian Diri
Pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek, yaitu penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial.
1. Penyesuaian pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan seseorang untuk menerima diri demi tercapainya hubungan yang harmonis antara dirinya dan lingkungan sekitarnya. Ia menyatakan sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekuranganya dan mampu bertindak objektif sesuai dengan kondisi dan potensi dirinya. Keberhasilan penyesuaian diri pribadi ditandai oleh tidak adanya rasa benci, tidak ada keinginan untuk lari dari kenyataan, atau tidak percaya pada potensi dirinya. Sebaliknya, kegagalan penyesuaian pribadi ditandai oleh adanya kegoncangan dan emosi, kecemasan, ketidakpuasan, dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya jarak pemisah antara kemampuan individu dan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungannya. Hal inilah yang menjadi sumber terjadi konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakanya, individu harus melakukan penyesuaian diri.
2. Penyesuaian Sosial
Dalam kehidupan di masyarakat terjadi proses saling memengaruhi satu sama lain yang terus menerus dan silih berganti. Dari proses tersebut, timbul pola kebudayaan dan pola tingkah laku yang sesuai dengan aturan, hukum, adat istiadat, nilai, dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial di tempat individu itu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan –hubungan sosial tersebut mencakup hubungan dengan anggota keluarga, masyarakat sekolah, teman sebaya, atau anggota masyarakat luas secara umum.
Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam proses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial secara baik. Prose berikutnya yang harus dilakukan oleh individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakatnya. Setiap kelompok masyarakat atau suku bangsa memiliki sistem nilai dan norma sosial yang berbeda-beda. Dalam proses penyesuaian sosial, individu berkenalan dengan nilai dan norma sosial yang berbeda-beda lalu berusaha untuk mematuhinya, sehingga menjadi bagian dan membentuk kepribadiannya. seperti
2.5 Implikasi Penyesuaian Diri Peserta Didik
Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Selain mengemban fungsi pengajaran, sekolah juga mengemban fungsi pendidikan (transformasi nilai dan norma sosial).
Upaya yang dapat dilakukan untuk memperlancar proses penyesuaian diri remaja di sekolah adalah sebagai berikut :
1. Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah bagi siswa, baik secara sosial, fisik maupun akademis.
2. Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan bagi siswa
3. Berusaha memahami siswa secara menyeluruh, baik prestasi belajar, sosial, maupun aspek pribadinya.
4. Menggunakan metode dan alat mengajar yang mendorong gairah belajar.
5. Menciptakan ruangan kelas yang memenuhi syarat kesehatan
6. Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat memperbesar motivasi belajar.
7. Adanya keteladanan dari para guru dalam segala aspek pendidikan
8. Mendapatkan kerja sama dan saling pengertian dari para guru dalam menjalankan kegiatan pendidikan
9. Melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan yang sebaik-baiknya.
10.Membuat tata tertib sekolah yang jelas dan dipahami siswa
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas maka kami dapat menyimpulkan bahwa Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui bahwa penyesuaian diri yang sempurna tidak akan pernah tercapai. Penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses psikologis sepanjang hayat (life long process) dan manusia terus-menerus akan berupaya menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat.
3.2 Saran
· Sebaiknya orang tua tidak memberikan kasih sayang yang berlebihan, karena menyebabkan remaja tidak bisa hidup mendiri, ia selalu mengharapkan bantuan dan perhatian orang lain dan ia berusaha menarik perhatian mereka.
· Sikap orang tua harusnya tidak otoritas karena ini menghambat penyesuaian diri pada mereka (remaja).
DAFTAR PUSTAKA
Fatimah, Enung. 2010. Psikologi perkembangan (perkembangan peserta didik). Bandung : Cv Pustaka Setia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar